For professional profile please visit my LinkedIn

Tulisan Ilmiah Melanggar Kaidah Ilmiah: Joki atau Hasil GenAI?

Kewajiban mempublikasikan artikel pada jurnal ilmiah menjadi tuntutan bagi dosen dan peneliti, memunculkan tidak sedikit permasalahan fundamental dalam dunia riset dan pendidikan tinggi, seperti diulas oleh Mas Arif K. Wijayanto dalam artikel bertajuk Kewajiban Publikasi: Antara Tuntutan dan Integritas Akademik. Dalam tulisannya, ditekankan bahwa perjokian dalam penulisan artikel ilmiah, makelar co-author, sampai menjamurnya penerbit jurnal abal-abal, yang jelas-jelas merupakan praktik tidak etis dan tidak pantas secara ilmiah, merupakan produk hasil kebijakan yang belum sepenuhnya siap diterapkan di Indonesia. Meskipun, hal tersebut bukan sepenuhnya disebabkan oleh kebijakannya, melainkan beberapa individu (harus diakui, akademisi-peneliti Indonesia) yang belum cukup memiliki integritas ilmiah.

Namun, ada satu hal menarik yang juga perlu menjadi perhatian, tentang peran pemerintah yang kurang dalam pengawasan terhadap kualitas jurnal. Sekali lagi, tuntutan publikasi artikel ilmiah secara tidak langsung mendorong lahirnya banyak jurnal baru dari institusi pendidikan tinggi, muncul dari fakultas dan jurusan, dari asosiasi bidang keilmuan sejenis, yang intinya home base-nya ada di institusi tersebut. Padahal, pengelolaan jurnal juga bukan suatu hal yang mudah, terutama dalam tanggung jawab pemenuhan artikel terbitan yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya, serta layak untuk dibaca masyarakat ilmiah. Pemerintah melalui sistem akreditasi dan kategorisasi-nya, Science and Technology Index (Sinta), memiliki instrumen penilaian akreditasi jurnal mengacu pada Permenkemdikbud No. 9 tahun 2018 dan Perdirjen Risbang No. 19 tahun 2018, dengan kategori pemeringkatan 1 sampai 6. 

Sayangnya, sistem pemeringkatan tidak dibarengi dengan kontrol terhadap pengelolaan jurnalnya. Sehingga, realitanya, jurnal terakreditasi dengan peringkat Sinta, belum tentu lebih baik dari jurnal yang belum terakreditasi dan belum mendapatkan pemeringkatan Sinta.

Harus diakui, banyak jurnal dibuat tapi kontrol kualitas naskahnya rendah, proses review yang tidak baik, hanya untuk mendongkrak kuantitas publikasi ilmiah individu dan institusi. Sebagai contoh, ada salah satu tulisan extended abstract kami yang dipresentasikan dalam suatu konferensi gabungan sebagai poster, hampir tujuh tahun lalu, tiba-tiba disitasi oleh empat judul artikel yang terbit pada jurnal Health Information: Jurnal Penelitian, dan  satu judul artikel pada Jurnal Mamangan (keduanya terakreditasi, Sinta 3). Kelima artikel tersebut ditulis oleh beberapa penulis dari afiliasi yang sama, di luar institusi penerbit. Sayangnya, semua artikel yang terbit pada kedua jurnal tersebut tidak ada satupun yang relevan dengan abstrak kami tentang karakteristik morfologi skelet kaki belakang badak sumatra. 

Pada bulan yang sama (Desember 2023), tulisan tersebut juga disitasi oleh dua judul artikel yang terbit pada International Journal of Public Health Excellence (IJPHE) (Penerbit PT Inovasi Pratama Internasional). Lagi-lagi, tidak ada relevansi dengan topik abstrak kami. Kesemua artikel tersebut di atas adalah tulisan dengan topik kesehatan (studi kasus di beberapa rumah sakit). 

Kembali kepada pertanyaan dalam judul artikel ini, apakah mungkin seseorang, manusia sebagai real intelligence, sampai melakukan kebodohan itu? Mengutip referensi yang sebetulnya dari judulnya saja pun tidak relevan dengan naskah yang sedang ditulisnya. Kekurangan ini lah yang dimiliki oleh Generative Artificial Intelligence (GenAI), apabila tidak digunakan dengan baik, atau digunakan oleh pihak yang belum memiliki integritas akademik yang bagus, serta belum cakap dalam memanfaatkan dan mengoptimalkan penggunaan GenAI. 








Veterinary anatomist | School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, IPB University

Post a Comment

Komentar atau tidak komentar tetap thank you.